201509171985

Interpret the idea of ​​Social Constitution Ala Jimly The notion of social constitution basically carrying two big issues, namely the institutionalization and konstitusionalisasi.

This news has been viewed 2,436 time
Memaknai Gagasan Konstitusi Sosial Ala Jimly

The term is often interpreted narrowly constitution. While discussing the constitution, usually emerging perspective can not be separated from the Constitution of the Republic of Indonesia (Constitution 1945). even though, actually less precise understanding. Jimly Asshiddique say, understanding as it means only limited understanding of the constitution as a political constitution. Therefore, through this new idea, Jimly try to give a broader perspective to interpret the term constitution.
Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) itu menamakan gagasan barunya dengan sebutan ’Konstitusi Sosial’. Oleh Jimly, gagasan itu juga dituangkan dalam bentuk buku. Dalam buku ke-45 yang ditulis ini, Jimly mencoba memberikan perspektif yang lebih luas dalam memaknai konstitusi. Lewat buku ini Jimly juga mencoba menggambarkan bagaimana sebenarnya bernegara yang mengedepankan konstitusionalisme dan institusionalisme dalam mewujudkan kehidupan sosial masyarakat madani.

Paling tidak, The basic idea of ​​this social constitution refers to two major issues, yaitukonstitusionalisasi and institutionalization. In terms konstitusionalisasi, Jimly hope that the meaning is not limited to the meaning of the constitution as the constitution defined in the Constitution 1945. The reason, according Jimly, constitutionalism dalam UUD 1945 includes three aspects. But can be understood by the political constitution, like understanding in general.

According to Jimly, Constitution 1945 can also be interpreted as the economic constitution. This matter, he said can be seen from the provisions of the Constitution 1945 in Chapter 14 tentang Pereknomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. Besides, aspek ketiga yang ada dalam UUD 1945 juga bisa dimakni dengan konstitusi sosial.

”Itu yang kemudian membuat inspirasi saya untuk memperluas pengertian konstitusionalisme,” kata Jimly saat melakukan bedah buku miliknya di kampus Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, di Tangerang Selatan, Saturday (3/10).

Sementara dari segi institusionalisasi,Jimly menuturkan kalau permasalahan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga, baik lembaga politik, economy, atau sosial salah satunya karena lembaga-lembaga itu belum menerapkan aspek konstitusi dalam merancang anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya (AD/ART). even though, according Jimly,AD/ART lembaga-lembaga itu juga termasuk bagian dari konstitusi. Yet, selama ini banyak lembaga yang menganggap kalau AD/ART itu sebagai dokumen biasa.

”Ide-ide konstitusi itu mencerminkan prinsip universal kehidupan besama. Jadi semakin ideal tata cara hidup bersama harus disepakati dengan konstitusi. Anggaran dasar ormas itu konstitusi juga. Tapi selama ini belum kita hubungkan dengan konstitusionalisme bernegara. Seakan-akan dia dokumen biasa-biasa saja,” katanya.

Sebelum itu, Ide awal mengenai konstitusi sosial ini sebenarnya sudah muncul sejak dulu. Year 1990, dalam disertasinya Jimly juga sudah menyinggung sedikit mengenai gagasan soal konstitusi sosial. Disertasi yang dia tulis ketika itu sebenarnya membicarakan mengenai perbedaan antara UUD 1945 dengan konstitusi di sejumlah negara lain yang mencontoh konstitusi Amerika Serikat sebagai model. Kesimpulanya, lanjut Jimly, in some countries there is nothing in its constitution include the economic aspects.

From there emerged the embryo of the idea of ​​the constitution sosialsebagaibuah thought Jimly. Yet, This idea also does not appear suddenly. Early embryo constructive ideas about social constitution is actually derived from previous ideas, namely the idea of ​​Constitutional Economics (Constitutional Market Economy) the publication also in book form 2010.

Only then, since 2013 Jimly mulai meriset untuk mengembangkan ide dasar soal konstitusi sosial. Besides, Jimly mengaku banyak mendapat inspirasi sewaktu menggagas konstitusi sosial ini karena buku yang dia baca. Buku itu, katanya adalah ”Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Povertyʱ??.

Source : www.hukumonline.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *