adnan buyung

Jejak Buyung Dalam Sejarah Law Firm dan LSM

Berita ini telah dilihat 3,929 kali
ABNA yang didirikan Buyung yang banyak melahirkan law firm-law firm generasi 1980-an.
Jejak Buyung Dalam Sejarah Law Firm dan LSM Suasana duka di kediaman Adnan Buyung Nasution, Rabu (23/9). Foto: RES

Dunia hukum Indonesia berkabung. Advokat senior, Adnan Buyung Nasution wafat setelah berhari-hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah, Rabu lalu (23/9). Kepergian Buyung menyisakan duka yang mendalam tidak hanya bagi kerabat dan para koleganya, tetapi juga masyarakat Indonesia, khususnya di dunia hukum.

Lahir sekira 81 tahun silam, kiprah almarhum Buyung dalam perkembangan hukum nasional memang tak terbantahkan. Banyak sumbangsih fenomenal yang telah diberikan pria yang khas dengan rambut peraknya itu. Dalam sejarah perkembangan law firm, misalnya, Buyung menjadi salah satu pemrakarsa lahirnya law firm modern.

Dalam tulisan Ahmad Fikri Assegaf dalam Jurnal Hukum dan Pasar Modal volume VII/Edisi 10 JuliDesember 2015 yang diterbitkan oleh Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM), Adnan Buyung Nasution and Associates (ABNA) yang didirikan Buyung tercatat sebagai law firm modern generasi awal yang kemudian menjadi ‘rahim’ atas lahirnya law firm-law firm generasi berikutnya di era 1980-an.

Law firm-law firm tersebut antara lain Lubis Ganie Surowidjojo (LGS) yang lahir tahun 1985,Hadiputranto Hadinoto & Partners (HHP) pada 1989,Makarim & Taira (M&T) pada 1980,Lubis Santosa Maulana (LSM) pada 1986,dan Kusnandar & Co (KC) pada 1980.

Tidak hanya dalam sejarah law firm, ‘jejak’ sumbangsih Buyung juga terserah dalam sejarah perkembangan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Yang fenomenal tentu saja Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang menjadi tonggak perlindungan hak asasi manusia (HAM), khususnya bagi masyarakat miskin yang mencari keadilan.

Dari YLBHI, Buyung mencetak figur-figur yang kemudian menjadi ‘motor’ pendiri sejumlah LSM, khususnya yang bergerak di bidang HAM. Sebut saja Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Berdirinya Elsam pada 14 Agustus 1993, salah satunya diprakarsai oleh Abdul Hakim Garuda Nusantarayang saat itu menjabat Direktur YLBHI.

Murid Buyung berikutnya adalah Munir Said Thalib. Aktivis HAM yang akrab disapa Cak Munir ini adalah salah satu pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Sebelum mendirikan Kontraspada tahun 1998, Munir malang melintang di organisasi LBH Semarang dan LBH Surabaya, dan juga sempat bermukim di YLBHI.

Munir yang tewas diracun ketika hendak berangkat studi ke Belanda juga tercatat sebagai salah satu pendiri Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial)bersama-sama dengan alumnus YLBHI lainnya seperti Todung Mulya Lubis dan Nursyahbani Katjasungkana.

Masih seputar HAM, murid-murid Buyung lainnya di YLBHI, Luhut MP Pangaribuan, Benny K Harman dan Hendardi turut andil dalam pendirian Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI). Luhuttercatat pernah menjabat Sekretaris Dewan Pengurus YLBHI (1992-1997) dan Direktur LBH Jakarta (1993-1997).

Tidak hanya melahirkan murid-murid yang menjadi cikal-bakal berdirinya sejumlah LSM HAM, Buyung juga tercatat sebagai pendiri Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP). Dalam pendirian LeIP, nama alumnus YLBHI Todung Mulya Lubis dan Benny K Harman juga turut andil.

Sebagai salah satu bukti nyata sumbangsih almarhum, LBH Jakarta menyatakan sangat kehilangan atas sosok yang akrab mereka sapa Bang Buyung. Menurut LBH Jakarta, Bang Buyung meninggalkan warisan krusial dalam sejarah hukum Indonesia dengan mendirikan LBH Jakarta pada 28 Oktober 1970 untuk kemudian mendirikan YLBHI.

Saat ini tercatat ada 15 perwakilan YLBHI di Indonesia, LBH Banda Aceh, LBH Medan, LBH Palembang, LBH Padang, LBH Lampung, LBH Jakarta, LBH Bandung, LBH Semarang, LBH Surabaya, LBH Malang, LBH Yogyakarta, LBH Bali, LBH Makassar, LBH Manado, dan LBH Papua (dulu LBH Jayapura).

“Kami sangat kehilangan Bang Buyung. Pada saat memberikan materi di Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) LBH Jakarta tahun 2013 Abang masih memberikan materi dengan berapi-api meskipun nafasnya menjadi tersengal-sengal. Saat sepeda motor pengacara publik hilang beliau juga menyatakan “Abang sangat sedih” dan kemudian memberikan bantuan” kenang Alghiffari Aqsa, Direktur LBH Jakarta.

Source ; www.hukumonline.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *